Rumus Timing Pengapian Mesin 2 Tak & 4 Tak

rumus timing pengapian mesin
rumus timing pengapian mesin

Rumus Timing Pengapian Mesin 2 Tak & 4 Tak – Sebagai seorang penghobi sepeda motor atau BIkers, tentunya kita tidak asing lagi dengan yang namanya “timing pengapian” atau dalam istilah teknisnya “ignition timing“. Istilah timing pengapian atau waktu pengapian ini juga tentunya sering kalian dengar ketika nongkrong sama anak-anak bengkel atau anak motor yang sukanya modifikasi mesin atau balap motor.

Meski kamu buka montir atau bukan team balap, boleh donk kita penasaran apa sih timing pengapian itu dan apa sih efeknya terhadap mesin baik itu mesin 2 tak dan mesin 4 tak serta bagaimana sih kok timing pengapian ini kayaknya penting banget untuk mendongkrak performa mesin?

Oke langsung saja kita cari tahu dan pahami konsepnya terlebih dahulu. Apa sih timing pengapian itu? bagaimana konsepnya dan pengukuran serta penjelasan dibaliknya!

Apa itu Timing Pengapian?

Rumus Timing Pengapian Mesin 2 Tak & 4 Tak
Ilustrasi timing pengapian

Waktu Pengapian atau Ignition Timing adalah waktu ketika percikan bungan api pada busi yang diatur oleh pulser atau Distributor jika pada mobil.

Baca Juga: Teknik Ground Strap, Memperbesar Pengapian Koil, Begini Caranya!

Timing pengapian dapat didefinisikan sebagai waktu atau saat dimana busi mulai memantikkan api di ruang bakar, terkait dengan posisi piston pada waktu langkah kompresi. Timing pengapian biasanya diukur dalam satuan derajat posisi piston dan kruk as sebelum Titik Mati Atas (TMA), dalam bahasa inggris istilahnya adalah derajat BTDC (Before Top Dead Center).

Jadi apabila misalnya disebutkan timing pengapian 40”, itu berarti busi mulai dinyalakan/ memantikan api pada waktu piston mencapai posisi 40 derajat sebelum titik mati atas di langkah kompresi.

Komponen pengatur timing atau waktu pengapian ini adalah pulser jika pada motor dan distributor (delco) apabila pada mesin mobil. Mengatur timing pengapian itu sendiri tidaklah gampang dan sembarangan karena untuk menghitung derajat pengapian yang ideal diperluka pemahaman terhadap rumus timing pengapian mesin.

Mengatur timing pengapian dapat diartikan melakukan modifikasi atau mengatur posisi derajat waktu pengapian sesuai waktu yang tepat menurut hitungan kita dengan rumus hitung timing pengapian dengan cara menggeser komponen yang mengatur pengapian mesin yaitu pulser & pick up nya atau dengan melakukan remap ECU untuk motor atau distributor (delco) apabila pada mesin mobil.

Untuk mesin mobil sendiri, distributor itu sendiri bisa digeser karena memang sudah dari sononya itu bisa kita atur, lain hal dengan sepeda motor yang secara bawaan tidak bisa kita atur.

Yang perlu kita garis bawahi, bahwa pembakaran itu sifatnya merambat bukan meledak”, tidak serta merta terjadi lalu selesai/tuntas seketika. Jadi ada delay atau rentang waktu yang dibutuhkan dari mulai api busi pertama kali dipantikkan lalu kemudian merambat/menyebar ke seluruh area di ruang bakar hingga akhirnya selesai membakar habis campuran bbm yg tersedia.

Efek Timing Pengapian Terlalu Maju Atau Terlalu Mundur

Melakukan modifikasi timing pengapian diperlukan untuk kamu yang menginginkan performa yang berbeda dan melakukan ubahanubahan yang menjadikan mesin motor tidak lagi standar. Apabila mesin motor kamu standard bawaan pabrik tentunya langkah melakukan ubahan pada timing pengapian tidak diperlukan karena pabrik tentunya sudah.

Efek timing pengapian terlalu maju atau terlalu mundur akan berakibat pada performa mesin itu sendiri tentunya. timing pengapian yang tepat diperlukan agar mendapatkan tekanan maksimum di beberapa derajat setelah TMA (tujuannya untuk mendapatkan hasil usaha yang efektif) maka saat pengapian harus tepat yaitu beberapa derajat sebelum TMA.

Baca Juga: Cara Cek Pulser Motor Menggunakan Avometer Atau Multitester

Untuk efek timing pengapian terlalu maju akibatnya bisa membuat mobil ngelitik atau detonasi karena tidak sesuai dengan timing seharusnya. Karena api busi meletik lebih cepat sebelum piston benar-benar melakukan kompresi. Hal ini juga berhubungan bahan bakar yang digunakan.

Saat pengapian yang terlalu maju dapat berisiko tinggi, terutama apabila tekanan maksimumnya (ledakannya) terjadi sebelum TMA tentu saja akan menyebabkan detonasi/knocking yang berujung pada kerusakan komponen mesin seperti pistin, connecting rod dll. kalau sampai tiingkat parah dan fatal.

Sama saja apabila timing pengapian terlalu mundur, efek timing pengapian terlalu mundur maka tekanan maksimum tidak akan terjadi di beberapa derajat setelah TMA yang berakibat tidak didapatkan usaha yang efektif. Saat pengapian yang terlalu mundur, akan membuat langkah usaha kurang maksimal, mesin tidak ada power atau tenaga, dan pastinya boros bahan bakar.

Timing Pengapian Mesin Motor Standard

Rumus Timing Pengapian Mesin 2 Tak & 4 Tak 3

Didapatkan dari berbagai sumber, pengapian untuk motor standart terjadi pada RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM)  loncatan api pada 8 – 15 derajat sebelum TMA. Pada RPM tengah tinggi (4.000 ke atas) loncatan api pada 25 – 30 derajat sebelum TMA. sebagai catatan, api busi motor standard tentunya tidak besar dibanding pengapian balap.

Sedangkan untuk motor balap, pengapian untuk motor balap terjadi pada RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM) : loncatan api pada 20 – 30 sebelum TMA. Pada RPM tengah sampai tinggi ( 4.000 ke atas) : loncatan api pada 35 – 42 sebelum TMA. Api busi untuk motor balap tentunya sudah diperbesar.

Baca Juga: Daftar Panjang Pickup Pulser Tonjolan Magnet Motor

Kenapa motor standar dan motor balap berbeda, dari apa saja faktor penyebabnya?

Tentunya kamu sudah paham kenapa timing pengapian mesin motor standard dan balap berbeda disebabkan oleh banyak faktor seperti penggunaan bahan bakar dan ukuran kompresi.

Sebagai contoh kenapa motor standar meletupkan bunga api 8-15 drajat sebelum TMA? jawabannya hal ini di mungkinkan karna sifat bahan bakar/oktan dan kompresi pada ruang bakar yang di gunakan pada motor standard seperti penggunaan bahan bakar premium yg beroktan 88 (mudah terbakar) dan kompresi antara 8-9 : 1 jadi cukup membutuh kan drajat yang sempit untuk membakar bahan bakar premium di tambah lagi kompresi yang rendah yang makin mendukungnya proses pembakaran lebih cepat pada (RPM 1000-3000).

Hal ini tentunya berbeda dengan motor balap yang penggunaan bahan bakar saja sudah berbeda.

Rumus Timing Pengapian 2 Tak & 4 Tak

Lalu bagaiamana cara menghitung timing pengapian atau rumus timing pengapian baik untuk rumus timing pengapian 2 tak dan rumus timing pengapian 4 tak?

Sayangnya tidak ada rumus pasti atau setidaknya tidak ada yang share rumus pengapian di jagat maya yang bisa kita temukan.

Rumus timing pengapian 2 tak ataupun 4 tak tidak bisa ada kalkulasi matematis yang simpelnya karena berdasarkan data yang ada, dari berbagai sumber didapatkan kesimpulan bahwa itu didasarkan pada hasil eksperimen dan pengukuran berulang.

Baca Juga: 6 Tanda Koil Mati, Kenali Agar Terhindar Dari Mogok

Namun kita bisa mengadopsi ukuran-ukuran derajat pengapian yang ada yang telah banyak di share oleh banyak sumber. seperti derajat pengapian yang di share Ratmotorsport atau Infobalapliarjakarta sebagai berikut ini.

Pengapian untuk motor balap terjadi pada:

• RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM) : loncatan api pada 20 – 30 sebelum TMA
• RPM tengah sampai tinggi ( 4.000 ke atas) : loncatan api pada 35 – 42 sebelum TMA

Saat melaju di putaran mesin 4000 rpm hingga 10,000 rpm. Mesin korek harian dengan kompresi 11:1 , dan meminum bahan bakar oktan tinggi maka timing pengapian yang umum dipakai diantara 35 – 40 derajat

Mesin balap memang mengelurakan tenaga besar pada maksimum ignition advance sebelum terjadi detonasi, maka bagaimana cara menentukannya , patoklah di 32 derajat misal di 9.000 rpm, coba di runing, kemudian tambahkan 1 derajat, coba lagi, terus hingga tidak terasa peningkatan tenaga yang signifikan maka kembalikan pada titik pengapian 1 langkah sebelumnya.

Atau melaui dynotest untuk hasil lebih presisi, jika terlihat tak ada lagi tambahan tenaga maka sudah tidak lagi diperlukan pemajuan pengapian. Titik pengapian optimal adalah, yang tidak menimbulkan detonasi , temperatur gas buang rendah, dan torsi paling besar.

Dari data diatas didapatkan kesimpulan bahwa rumus timing pengapian 2 tak & 4 tak didapatkan dengan cara pengukuran sedikit demi sedikit menggunakan dynotest atau tanpa dynotest yaitu di test running dengan melaju langsung di track lintasan.